Beranda > Sosiology > Learn to Say No: Asertivitas

Learn to Say No: Asertivitas


Asertivitas suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Misalnya saja seperti menyontek disaat ulangan. alam bersikap asertif, seseorang dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan atau pun merugikan pihak lainnya. Suatu saat sahabat kamu mengajak kamu untuk menyontek pas ulangan,kamu bisa bilang ke sahabat kamu kalau kamu tidak mau menyontek. Nolaknya ga usah galak-galak,apalagi sampe nyeramahin dia kalau nyontek itu nggak baik. Nyantai aja bro!

Kalau perlu ngasih taunya sambil bercanda. Hal yang sama berlaku untuk merokok,minum alkohol dan narkoba. Kalaumenurut kamu itu tidak benar,ya jangan dilakukan. Walaupun kamu di bujuk atau bahkan di paksa sekalipun. Lagian kalau mereka teman yang baik,mereka pasti bisa ngertiin kamu ko.

Atau misalkan kamu diajak main game online di warnet. Kalau memang kamu ga suka main game online,bilang aja terus terang ke teman kamu,kamu cuma ikut nemenin aja tapi nggak ikut main. Dengan berterus terang,temen kamu juga pasti bisa menghargai kamu ko. Lagian juga kamu akan menghargai orang lain yang berterus terang kan,dari pada orang yang mencari alasan yang mengada-ada.

Apakah bedanya dengan agresif dan non-asertif ?
Seseorang dikatakan asertif hanya jika dirinya mampu bersikap tulus dan jujur dalam mengekspresikan perasaan, pikiran dan pandangannya pada pihak lain sehingga tidak merugikan atau mengancam integritas pihak lain. Sedangkan dalam agresif, ekspresi yang dikemukakan justru terkesan melecehkan, menghina, menyakiti, merendahkan dan bahkan menguasai pihak lain sehingga tidak ada rasa saling menghargai dalam interaksi atau komunikasi tersebut.

Sikap atau pun perilaku agresif cenderung akan merugikan pihak lain karena seringkali bentuknya seperti mempersalahkan, mempermalukan, menyerang (secara verbal atau pun fisik), marah-marah, menuntut, mengancam, sarkase (misalnya kritikan dan komentar yang tidak enak didengar), sindiran ataupun sengaja menyebarkan gosip.

Seseorang dikatakan bersikap non-asertif, jika ia gagal mengekspresikan perasaan, pikiran dan pandangan/keyakinannya; atau jika orang tersebut mengekspresikannya sedemikian rupa hingga orang lain malah memberikan respon yang tidak dikehendaki atau negatif.

Mengapa orang enggan bersikap asertif ?
Kebanyakan orang enggan bersikap asertif karena dalam dirinya ada rasa takut mengecewakan orang lain, takut jika akhirnya dirinya tidak lagi disukai ataupun diterima. Selain itu alasan “untuk mempertahankan kelangsungan hubungan” juga sering  menjadi alasan karena salah satu pihak tidak ingin membuat pihak lain sakit hati. Padahal, dengan membiarkan diri untuk bersikap non-asertif (memendam perasaan, perbedaan pendapat), justru akan mengancam hubungan yang ada karena salah satu pihak kemudian akan merasa dimanfaatkan oleh pihak lain.

Iklan
Kategori:Sosiology
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: